Pendudukan Jepang di Indonesia dan Detik Detik Kemerdekaan Indonesia

A. MASA PENDUDUKAN JEPANG


Masa pendudukan Jepang di Indonesiadimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring denganProklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan pada Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang keAmerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal pada Juni1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942. Pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang. Selama masa pendudukan, Jepang juga membentuk persiapan kemerdekaan yaitu BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau 独立準備調査会 (Dokuritsu junbi chōsa-kai?) dalam bahasa Jepang. Badan ini bertugas membentuk persiapan-persiapan pra-kemerdekaan dan membuat dasar negara dan digantikan oleh PPKI yang bertugas menyiapkan kemerdekaan.
•Latar Belakang
Bulan Oktober 1941, Jenderal Hideki Tojomenggantikan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebenarnya, sampai akhir tahun 1940, pimpinan militer Tambelang tidak menghendaki melawan beberapa kecamatan sekaligus, namun sejak pertengahan tahun 1941 mereka melihat, bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Belanda harus dihadapi sekaligus, apabila mereka ingin menguasai sumber daya alam di Asia Tenggara. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi, yang sangat mereka butuhkan, baik untuk industri di Jepang, maupun untuk keperluan perang.
Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii. Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina danMalaya/Singapura, yang akan dilanjutkan keJawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.
Hari minggu pagi tanggal 7 Desember1941, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini berhasil menenggelamkan dua kapal perang besar serta merusak 6 kapal perang lain. Selain itu pemboman Jepang tesebut juga menghancurkan 180 pesawat tempur Amerika. Lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor. Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.
Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.
•Organisasi yang diprakarsai oleh Jepang
·         Pembela Tanah Air (PETA)
·         Gakukotai (laskar pelajar)
·         Heiho (barisan cadangan prajurit)
·         Seinendan (barisan pemuda)
·         Fujinkai (barisan wanita)
·         Putera (Pusat Tenaga Rakyat)
·         Jawa Hokokai
·         Keibodan (barisan pembantu polisi)
·         Jibakutai (pasukan berani mati)
·         Kempetai (barisan polisi rahasia)

Adapun perlawanan rakyat terhadap Jepang

•Peristiwa Cot PliengAceh 10 November 1942
Pemberontakan dipimpin seorang ulama muda Tengku Abdul Jalil, guru mengaji di Cot Plieng, Lhokseumawe. Usaha Jepang untuk membujuk sang ulama tidak berhasil, sehingga Jepang melakukan serangan mendadak di pagi buta sewaktu rakyat sedang melaksanakan salat Subuh. Dengan persenjataan sederhana/seadanya rakyat berusaha menahan serangan dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk kembali ke Lhokseumawe. Begitu juga dengan serangan kedua, berhasil digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan terakhir (ketiga) Jepang berhasil membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan (Teuku Abdul Jalil) berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh, namun akhirnya tertembak saat sedang salat.
•Peristiwa Singaparna
Perlawanan fisik ini terjadi di pesantren Sukamanah Singaparna Tasikmalaya, Jawa Baratdi bawah pimpinan KH. Zainal Mustafa, tahun 1943. Beliau menolak dengan tegas ajaran yang berbau Jepang, khususnya kewajiban untuk melakukan Seikerei setiap pagi, yaitu memberi penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah matahari terbit. Kewajiban Seikerei ini jelas menyinggung perasaan umat Islam Indonesia karena termasuk perbuatan syirik/menyekutukan Tuhan. Selain itu beliaupun tidak tahan melihat penderitaan rakyat akibat tanam paksa.
Saat utusan Jepang akan menangkap, KH. Zainal Mustafa telah mempersiapkan para santrinya yang telah dibekali ilmu beladiri untuk mengepung dan mengeroyok tentara Jepang, yang akhirnya mundur ke Tasikmalaya. Jepang memutuskan untuk menggunakan kekerasan sebagai upaya untuk mengakhiri pembangkangan ulama tersebut. Pada tanggal 25 Februari 1944, terjadilah pertempuran sengit antara rakyat dengan pasukan Jepang setelah salat Jumat. Meskipun berbagai upaya perlawanan telah dilakukan, namun KH. Zainal Mustafa berhasil juga ditangkap dan dibawa ke Tasikmalayakemudian dibawa ke Jakarta untuk menerima hukuman mati dan dimakamkan di Ancol.
•Peristiwa Indramayu, April 1944
Peristiwa Indramayu terjadi bulan April 1944 disebabkan adanya pemaksaan kewajiban menyetorkan sebagian hasil padi dan pelaksanaan kerja rodi/kerja paksa/Romusha yang telah mengakibatkan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.Pemberontakan ini dipimpin oleh Haji Madriyan dan kawan-kawan di desa Karang Ampel, Sindang, Kabupaten Indramayu.Pasukan Jepang sengaja bertindak kejam terhadap rakyat di kedua wilayah (Lohbener dan Sindang) agar daerah lain tidak ikut memberontak setelah mengetahi kekejaman yang dilakukan pada setiap pemberontakan.
•Pemberontakan Teuku Hamid
Teuku Hamid adalah seorang perwiraGiyugun, bersama dengan satu pleton pasukannya melarikan diri ke hutan untuk melakukan perlawanan. Ini terjadi pada bulan November 1944. Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah Jepang melakukan ancaman akan membunuh para keluarga pemberontak jika tidak mau menyerah. Kondisi tersebut memaksa sebagian pasukan pemberontak menyerah, sehingga akhirnya dapat ditumpas. Di daerahAceh lainnya timbul pula upaya perlawanan rakyat seperti di Kabupaten Berenaih yang dipimpin oleh kepala kampung dan dibantu oleh satu regu Giyugun (perwira tentara sukarela), namun semua berakhir dengan kondisi yang sama yakni berhasil ditumpas oleh kekuatan militer Jepang dengan sangat kejam.
•Pemberontakan Peta
  •Perlawanan PETA di Blitar (29 Februari 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh SyodancoSupriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.
Perlawanan ini dipimpin oleh Perwira Gyugun Teuku Hamid. Latar belakang perlawanan ini karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya dan prajurit Indonesia pada khususnya.
  • Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (April 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco), Kusaeri bersama rekan-rekannya. Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui Jepang sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25 April 1945. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu.
•Perlawanan Pang Suma
Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Pang Suma berkobar di Kalimantan Barat. Pang Suma adalah pemimpin suku Dayak yang besar pengaruhnya di kalangan suku-suku di daerahTayan dan Meliau. Perlawanan ini bersifat gerilya untuk mengganggu aktivitas Jepang diKalimantan.
Momentum perlawanan Pang Suma diawali dengan pemukulan seorang tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang, satu di antara sekitar 130 pekerja pada sebuah perusahaan kayu Jepang. Kejadian ini kemudian memulai sebuah rangkaian perlawanan yang mencapai puncak dalam sebuah serangan balasan Dayak yang dikenal dengan Perang Majang Desa, dari April hingga Agustus 1944 di daerah Tayan-Meliau-Batang Tarang (Kab. Sanggau). Sekitar 600 pejuang kemerdekaan dibunuh oleh Jepang, termasuk Pang Suma.
•Perlawanan Koreri di Biakdi Irian Barat tahun 1943
Perlawanan ini dipimpin oleh L. Rumkorem, pimpinan Gerakan Koreri yang berpusat di Biak. Perlawanan ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat yang diperlakukan sebagai budak belian, dipukuli, dan dianiaya. Dalam perlawanan tersebut rakyat banyak jatuh korban, tetapi rakyat melawan dengan gigih. Akhirnya Jepang meninggalkan Pulau Biak.
•Perlawanan di Pulau Yapen Selatan
Perlawanan ini dipimpin oleh Nimrod. Ketika Sekutu sudah mendekat maka memberi bantuan senjata kepada pejuang sehingga perlawanan semakin seru. Nimrod dihukum pancung oleh Jepang untuk menakut-nakuti rakyat. Tetapi rakyat tidak takut dan muncullah seorang pemimpin gerilya yakni S. Papare.
•Perlawanan di Tanah Besar Papua
Perlawanan ini dipimpin oleh Simson. Dalam perlawanan rakyat di Papua, terjadi hubungan kerja sama antara gerilyawan dengan pasukan penyusup Sekutu sehingga rakyat mendapatkan modal senjata dari Sekutu.
•Gerakan bawah tanah
Sebenarnya bentuk perlawanan terhadap pemerintah Jepang yang dilakukan rakyat Indonesia tidak hanya terbatas pada bentuk perlawanan fisik saja tetapi Anda dapat pula melihat betnuk perlawanan lain/gerakan bawah tanah seperti yang dilakukan oleh:
  • Kelompok Sutan Syahrir di daerah Jakarta dan Jawa Barat dengan cara menyamar sebagai pedagang nanas di Sindanglaya.
  • Kelompok SukarniAdam Malik dan Pandu Wiguna. Mereka berhasil menyusup sebagai pegawai kantor pusat propaganda Jepang Sendenbu (sekarang kantor berita Antara).
  • Kelompok Syarif Thayeb, Eri Sudewo danChairul Saleh. Mereka adalah kelompok mahasiswa dan pelajar.
  • Kelompok Mr. Achmad Subardjo, Sudiro dan Wikana. Mereka adalah kelompok gerakan Kaigun (AL) Jepang.
Mereka yang tergabung dalam kelompok di bawah tanah, berusaha untuk mencari informasi dan peluang untuk bisa melihat kelemahan pasukan militer Jepang dan usaha mereka akan dapat Anda lihat hasilnya pada saat Jepang telah kalah dari Sekutu, kelompok pemudalah yang lebih cepat dapat informasi tersebut serta merekalah yang akhirnya mendesak golongan tua untuk secepatnya melakukn proklamasi.
Demikianlah gambaran tentang aktifitas pergerakan Nasional yang dilakukan oleh kelompok organisasi maupun gerakan sosial pada masa pemerintah pendudukan Jepang, tentu Anda dapat memahami sebab-sebab kegagalan dan mengapa para tokoh pergerakan lebih memilih sikap kooperatif menghadapi pemerintahan militer Jepang yang sangat ganas/kejam.
 Disampin itu adapun dampak dari pendudukan Jepang di Indonesia 


Dampak Positif Pendudukan Jepang
Tidak banyak yang mengetahui tentang dampak positifnya Jepang menduduki Indonesia. Ada pun dampak positif yang dapat dihadirkan antara lain :
  • Diperbolehkannya bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa komunikasi nasional dan menyebabkan bahasa Indonesia mengukuhkan diri sebagai bahasa nasional.
  • Jepang mendukung semangat anti-Belanda, sehingga mau tak mau ikut mendukung semangat nasionalisme Indonesia. Antara lain menolak pengaruh-pengaruh Belanda, misalnya perubahan nama Batavia menjadi Jakarta.
  • Untuk mendapatkan dukungan rakyat Indonesia, Jepang mendekati pemimpin nasional Indonesia seperti Soekarno dengan harapan agar Soekarno mau membantu Jepang memobilisasi rakyat Indonesia. Pengakuan Jepang ini mengukuhkan posisi para pemimpin nasional Indonesia dan memberikan mereka kesempatan memimpin rakyatnya.
  • Dalam bidang ekonomi didirikannya kumyai yaitu koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
  • Mendirikan sekolah-sekolah seperti SD 6 tahun, SMP 9 tahun, dan SLTA
  • Pembentukan strata masyarakat hingga tingkat paling bawah yaitu rukun tetangga (RT) atau Tonarigumi
  • Diperkenalkan suatu sistem baru bagi pertanian yaitu line system (sistem pengaturan bercocok tanam secara efisien) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan.
  • Dibentuknya BPUPKI dan PPKI untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Dari sini muncullah ide Pancasila.
  • Jepang dengan terprogram melatih dan mempersenjatai pemuda-pemuda Indonesia demi kepentingan Jepang pada awalnya. Namun oleh pemuda hal ini dijadikan modal untuk berperang yang dikemudian hari digunakan untuk menghadapi kembalinya pemerintah kolonial Belanda.
  • Dalam pendidikan dikenalkannya sistem Nipon-sentris dan diperkenalkannya kegiatan upacara dalam sekolah.
Dampak Negatif Pendudukan Jepang
Selain dampak positifnya tadi diatas, Jepang juga membawa dampak negatif yang luar biasa antara lain :
  • Penghapusan semua organisasi politik dan pranata sosial warisan Hindia Belanda yang sebenarnya banyak diantaranya yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, dan kesejahteraan warga.
  • Romusha, mobilisasi rakyat Indonesia (terutama warga Jawa) untuk kerja paksa dalam kondisi yang tidak manusiawi.
  • Penghimpunan segala sumber daya seperti sandang, pangan, logam, dan minyak demi kepentingan perang. Akibatnya beras dan berbagai bahan pangan petani dirampas Jepang sehingga banyak rakyat yang menderita kelaparan.
  • Krisis ekonomi yang sangat parah. Hal ini karena dicetaknnya uang pendudukan secara besar-besaran sehingga menyebabkan terjadinya inflasi.
  • Kebijakan self sufficiency (kawasan mandiri) yang menyebabkan terputusnya hubungan ekonomi antar daerah.
  • Kebijakan fasis pemerintah militer Jepang yang menyebar polisi khusus dan intelijen di kalangan rakyat sehingga menimbulkan ketakutan. Pemerintah Jepang bebas melanggar hak asasi manusia dengan menginterogasi, menangkap, bahkan menghukum mati siapa saja yang dicurigai atau dituduh sebagai mata-mata atau anti-Jepang tanpa proses pegadilan.
  • Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independen, semuanya dibawah pengawasan Jepang.
  • Terjadinya kekacauan situasi dan kondisi keamanan yang parah seperti maraknya perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
  • Pelarangan terhadap buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris yang menyebabkan pendidikan yang lebih tinggi terasa mustahil.
  • Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat-pejabat pada masa itu yang menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.
B. DETIK DETIK KEMENDEKAAN
INDONESIA 
1. Jepang Kalah Perang dengan Sekutu
Jepang Kalah Perang dengan Sekutu 
Coba sekali lagi kamu amati gambar bom atom di atas! Di manakah bom 
atom tersebut meletus? Siapa yang melakukan pengeboman? Bagaimana 
korban akibat letusan bom atom tersebut? Bom atom yang diledakkan di 
dua kota di Jepang yakni Hirosima dan Nagasaki menyebabkan ratusan ribu 
penduduk Jepang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengalami 
kecacatan. Kerugian material tidak terhitung jumlahnya. Bahkan sampai 
sekarang dampak terjadinya bom atom masih dirasakan masyarakat Jepang. 
Kerusakan dan dampak korban yang sangat mengerikan tersebut mendorong 
masyarakat dunia sepakat untuk tidak menggunakan senjata tersebut dalam 
berbagai peperangan. Dua bom atom tersebut telah meluluhlantakkan kota 
Hiroshima dan Nagasaki. Coba kamu bayangkan bagaimana seandainya 
ada 1000 bom atom yang diledakkan? Dapat dipastikan bahwa akan terjadi 
kiamat, karena semua makhluk di dunia meninggal dunia. Siapa yang 
menjatuhkan kedua bom atom tersebut? Amerika Serikat yang menjatuhkan 
kedua bom atom pada dua kota di Jepang pada tanggal 6 dan 9 Agustus 
1945.
Mengapa Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Jepang? Perang Dunia 
II yang berkecamuk sejak tahun 1939 telah menyebabkan kedua kelompok 
yakni Sekutu dan negara-negara fasis saling menyerang dengan menggunakan 
senjata pemusnah dan kerusakan massal. Korban dan kerugian kedua belah 
pihak tidak terhitung jumlahnya. Jutaan manusia meninggal dunia akibat 
Perang Dunia II tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah masyarakat sipil 
yang bukan merupakan tentara perang.
Keinginan Amerika untuk segera menghancurkan kekuatan Jepang dilakukan 
dengan mengirimkan pesawat pembawa bom atom. Pada tanggal 6 Agustus 
1945, bom atom pertama diledakkan di kota Hirosihma, sementara pada 
tanggal 9 Agustus 1945 bom atom diledakan di kota Nagasaki. Digambarkan 
oleh masyarakat yang selamat di kedua kota tersebut, bahwa ledakan 
bom atom seperti gunung api yang jatuh ke bumi. Tiba-tiba langit terang 
seperti ada kilat, disusul berbagai benda berhamburan terbang. Bersamaan 
itu berbagai makhluk hidup meregang nyawa, kehilangan anggota badan, 
bahkan hancur berkeping-keping. Dua kota Jepang luluh lantak.
2. Perbedaan Pendapat dan Penculikan 
Hari-hari menjelang tanggal 15 Agustus 1945 merupakan hari yang 
menegangkan bagi bangsa Jepang dan bangsa Indonesia. Bagi bangsa 
Jepang, tanggal tersebut merupakan titik akhir nyali mereka dalam 
melanjutkan PD II. Menyerah kepada Sekutu adalah pilihan yang sangat 
pahit tetapi harus dilakukan. Bagi bangsa Indonesia, tanggal tersebut justru 
menjadi kesempatan baik untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan. 
Inilah yang menjadi pemikiran utama para pemuda atau sering disebut 
Golongan Muda kaum pergerakan Indonesia. Para pemuda berpikir, bahwa 
menyerahnya Jepang kepada Sekutu, berarti di Indonesia sedang kosong 
kekuasaan. Proklamasi dipercepat adalah pilihan yang tepat.
Para pejuang terutama kaum muda yang melancarkan gerakan “bawah 
tanah” segera mengetahui berita penyerahan Jepang itu. Para pemuda 
mendesak para tokoh senior untuk segera memproklamasikan kemerdekaan 
Indonesia. Sutan Syahrir yang merupakan tokoh pemuda telah mengetahui 
berita penyerahan Jepang kepada Sekutu dari siaran radio. Oleh karena itu, ia 
segera menemui Moh. Hatta di kediamanya. Syahrir mendesak agar Sukarno 
dan Moh. Hatta segera memerdekakan Indonesia. Namun, ternyata Sukarno 
dan Moh. Hatta belum bersedia, mereka akan mengonfirmasi terlebih dulu 
mengenai kebenaran berita tersebut.
Mengapa Sukarno dan Hatta menolak segera memproklamasikan 
kemerdekaan Indonesia? Sebagai tokoh-tokoh yang demokratis, tahu hak 
dan kewajiban selaku pemimpin, kedua tokoh itu berpendapat bahwa untuk 
memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, perlu dibicarakan dengan 
PPKI agar tidak menyimpang dari ketentuan. Akan tetapi, para pemuda 
berpendapat bahwa proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan 
oleh kekuatan bangsa sendiri, bukan oleh PPKI. Menurut para pemuda, PPKI 
itu buatan Jepang.
Hari Rabu tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 WIB, para pemuda 
yang dipimpin Wikana, Sukarni, dan Darwis datang di rumah Sukarno di 
Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Wikana dan Darwis memaksa Sukarno 
untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda mendesak 
agar proklamasi dilaksanakan paling lambat tanggal 16 Agustus 1945. 
Sukarno marah, sambil menunjuk lehernya ia berkata, “Ini goroklah leherku, 
saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepas 
tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI, karena itu akan saya tanyakan 
kepada wakil-wakil PPKI besok”. Ketegangan terjadi di rumah Sukarno. Hal ini juga disaksikan antara lain oleh Moh. Hatta, dr. Buntaran, Ahmad Subarjo, 
dan lwa Kusumasumantri.
Para pemuda gagal memaksa Sukarno dan golongan tua untuk segera 
memproklamasikan kemerdekaan. Para pemuda malam itu sekitar pukul 
24.00 tanggal 15 Agustus mengadakan pertemuan di Jl Cikini 71 Jakarta. 
Para pemuda yang hadir, antara lain Sukarni, Yusuf Kunto, Chaerul Saleh, 
dan Shodanco Singgih. Mereka sepakat untuk membawa Sukarno dan Moh. 
Hatta ke luar kota. Tujuannya, agar kedua tokoh ini jauh dari pengaruh Jepang 
dan bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda juga 
sepakat menunjuk Shodanco Singgih untuk memimpin pelaksanaan rencana 
tersebut.
Untuk melaksanakan tugas, Singgih mendapat pinjaman beberapa 
perlengkapan dari markas Peta di Jaga Monyet. Waktu itu yang piket di 
markas Peta adalah Latif Hendraningrat. Singgih disertai pengemudi, Sampun 
dan penembak mahir Sutrisno bersama Sukarni, Wikana, dan dr. Muwardi 
menuju ke rumah Moh.Hatta. Singgih secara singkat minta kesediaan 
Moh. Hatta untuk ikut ke luar kota. Moh. Hatta menuruti kehendak para 
pemuda itu. Rombongan kemudian menuju ke rumah Sukarno. Tiba di 
rumah Sukarno, Singgih meminta agar Sukarno ikut pergi ke luar kota saat 
itu juga. Sukarno setuju, asal Fatmawati, Guntur (waktu itu berusia sekitar 
delapan bulan) dan Moh. Hatta ikut serta. Tanggal 16 Agustus sekitar pukul 
04.00 pagi rombongan Sukarno, Moh. Hatta, dan para pemuda menuju 
Rengasdengklok.
Dipilih daerah Kawedanan Rengasdengklok, karena daerah itu terpencil yaitu 
15 km dari Kedunggede, Karawang. Selain itu, juga ada hubungan baik antara 
Daidan Peta Purwakarta dan Daidan Jakarta, sehingga dari segi keamanan 
terjamin. Pagi hari rombongan Sukarno sampai di Rengasdengklok. Mereka 
diterima oleh Shodanco Subeno dan Affan. Mereka ditempatkan di rumah 
Kie Song yang simpati pada perjuangan bangsa Indonesia.
Sehari di Rengasdengklok, ternyata gagal memaksa Sukarno untuk 
menyatakan kemerdekaan Indonesia lepas dari campur tangan Jepang. 
Namun, ada gelagat yang ditangkap oleh Singgih bahwa Sukarno bersedia 
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia kalau sudah kembali ke 
Jakarta. Melihat tanda-tanda bahwa Sukarno bersedia memproklamasikan 
kemerdekaan Indonesia, maka sekitar pukul 10.00 bendera Merah Putih dikibarkan di halaman Kawedanan Rengasdengklok.
Jakarta berada dalam keadaan tegang karena tanggal 16 Agustus 1945 
seharusnya diadakan pertemuan PPKI, tetapi Sukarno dan Moh. Hatta 
tidak ada di tempat. Ahmad Subarjo segera mencari kedua tokoh tersebut. 
Akhirnya setelah terjadi kesepakatan dengan Wikana, Ahmad Subarjo 
ditunjukkan dan diantarkan ke Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto.
Ahmad Subarjo tiba di Rengasdengklok pukul 17.30 WIB untuk menjemput 
Sukarno dan rombongan. Kecurigaan pun menyelimuti perasaan para 
pemuda yang bertemu dengan Ahmad Subarjo. Akhirnya Ahmad Subarjo 
memberikan jaminan. Apabila besok (tanggal 17 Agustus) paling lambat pukul 
12.00, belum ada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, taruhannya nyawa 
Ahmad Subarjo. Dengan jaminan itu, maka Shodanco Subeno mewakili para 
pemuda mengizinkan Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, dan rombongan kembali 
ke Jakarta. Petang itu juga Sukarno dan rombongan kembali ke Jakarta. 
Dengan demikian berakhirlah peristiwa Rengasdengklok.
3. Perumusan Teks Proklamasi 

Setelah tiba di Jl. Imam Bonjol No. 1, lalu Sukarno dan Moh. Hatta 
diantarkan Laksamana Maeda menemui Gunseikan Mayor Jenderal Hoichi 
Yamamoto (Kepala Pemerintahan Militer Jepang). Akan tetapi Gunseikan
menolak menerima Sukarno-Hatta pada tengah malam. Dengan ditemani 
oleh Maeda, Shigetada Nishijima dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyoshi 
sebagai penterjemah, mereka pergi menemui Somubuco Mayor Jenderal 
Otoshi Nishimura (Direktur/Kepala Departemen Umum Pemerintahan Militer 
Jepang), dengan maksud untuk menjajaki sikapnya terhadap pelaksanaan 
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 
Pada pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat antara Sukarno-Hatta 
di satu pihak dengan Nishimura di lain pihak. Di satu pihak Sukarno-
Hatta bertekad untuk melangsungkan rapat PPKI yang pada pagi hari 
tanggal 16 Agustus 1945 itu tidak jadi diadakan karena mereka dibawa ke 
Rengasdengklok. Mereka menekankan kepada Nishimura bahwa Jenderal 
Besar Terauchi telah menyerahkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan 
Indonesia kepada PPKI. Di lain pihak Nishimura menegaskan garis kebijakan 
Panglima Tentara ke-XVI di Jawa, bahwa dengan menyerahnya Jepang 
kepada Sekutu berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan 
lagi mengubah status quo.
Berdasarkan garis kebijaksanaan itu, Nishimura melarang Sukarno-Hatta 
untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi 
Kemerdekaan. Sampailah Sukarno-Hatta pada kesimpulan bahwa tidak ada 
gunanya lagi untuk membicarakan soal kemerdekaan Indonesia dengan pihak 
Jepang. Mereka hanya berharap pihak Jepang supaya tidak menghalang-
halangi pelaksanaan Proklamasi oleh rakyat Indonesia sendiri.

Setelah pertemuan itu, Sukarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Setelah 
berbicara sebentar dengan Sukarno, Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo, 
Laksamana Maeda minta diri untuk beristirahat dan mempersilakan para 
pemimpin Indonesia berunding sampai puas di rumahnya. Di ruang makan 
Maeda, dirumuskanlah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketika 
peristiwa itu berlangsung Maeda tidak hadir, tetapi Miyoshi sebagai orang 
kepercayaan Nishimura bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan 
Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo membahas perumusan naskah 
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Sukarno pertama kali menuliskan kata pernyataan “Proklamasi”. Sukarno 
kemudian bertanya kepada Moh. Hatta dan Ahmad Subarjo.“Bagaimana 
bunyi rancangan pada draf pembukaan UUD? Kedua orang yang ditanya 
pun tidak ingat persis. Ahmad Subarjo kemudian menyampaikan kalimat 
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. 
Moh. Hatta menambahkan kalimat: “Hal-hal yang mengenai pemindahan 
kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam 
tempoh yang sesingkat-singkatnya”. Sukarno menuliskan, “Jakarta, 17-8-
’05 Wakil-wakil bangsa Indonesia”, sebagai penutup.
Pukul 04.00 WIB dini hari, Sukarno minta persetujuan dan minta tanda 
tangan kepada semua yang hadir sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Para 
pemuda menolak dengan alasan sebagian yang hadir banyak yang menjadi 
kolaborator Jepang. Sukarni mengusulkan agar teks proklamasi cukup ditandatangani dua orang tokoh, yakni Sukarno dan Moh. Hatta, atas nama 

bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima. Dengan beberapa perubahan yang 
telah disetujui, maka konsep itu kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik 
untuk diketik.
4. Pembacaan Proklamasi Pukul 10.00 Pagi
Pada pukul 5 pagi tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin dan pemuda 
keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan diliputi kebanggaan. Mereka 
telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di rumah Sukarno di 
Jl. Pegangsaan Timur No. 56 pada pukul 10 pagi. Sebelum pulang, Moh.Hatta berpesan kepada B.M. Diah untuk memperbanyak teks Proklamasi dan 
menyiarkannya ke seluruh dunia. 
Sementara itu, para pemuda tidak langsung pulang, mereka melakukan 
kegiatan-kegiatan untuk penyelenggaraan pembacaan naskah Proklamasi. 
Masing-masing kelompok pemuda mengirim kurir untuk memberitahukan 
kepada masyarakat bahwa saat Proklamasi telah tiba. Semua alat komunikasi 
digunakan untuk penyambutan Proklamasi. Pamflet, pengeras suara, dan 
mobil-mobil dikerahkan ke segenap penjuru kota.
Tanpa diduga, pada hari itu barisan pemuda berbondong-bondong menuju 
Lapangan Ikada. Para pemuda datang ke tempat itu, karena informasi yang 
disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Proklamasi akan diselenggarakan 
di Lapangan Ikada. Rupanya Jepang telah mencium kegiatan para pemuda 
malam itu, sehingga mereka berusaha untuk menghalang-halanginya. 
Lapangan Ikada telah dijaga oleh Pasukan Jepang yang bersenjata lengkap. 
Ternyata Proklamasi tidak diselenggarakan di Lapangan Ikada, melainkan di 
Pegangsaan Timur No. 56.
Pada pagi hari itu juga, rumah Sukarno dipadati oleh sejumlah massa. Untuk 
menjaga keamanan upacara pembacaan Proklamasi, dr. Muwardi meminta 
Latief Hendraningrat beserta beberapa anak buahnya untuk berjaga-
jaga di sekitar rumah Sukarno. Sementara itu, Walikota Jakarta, Suwiryo 
memerintahkan kepada Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang 
diperlukan seperti mikrofon. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. 
Suhud untuk menyiapkan tiang bendera. S. Suhud mendapatkan bendera 
Merah Putih dari Ibu Fatmawati. Bendera dijahit Ibu Fatmawati sendiri dan 
ukurannya sangat besar (tidak standar). Bendera Merah Putih yang dijahit 
Fatmawati dikenal dengan bendera pusaka. Sejak tahun 1969 tidak lagi 
dikibarkan dan diganti dengan bendera duplikat. 
Sejak pagi hari, sudah banyak orang berdatangan di rumah Sukarno di 
Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Tokoh-tokoh yang sudah hadir, antara lain 
Mr. A. A. Maramis, dr. Buntaran Martoatmojo, Mr. Latuharhary, Abikusno 
Cokrosuyoso, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantoro, Sam Ratulangie, 
Sartono, Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, M. Tabrani, dr. Muwardi, Ny. 
SK. Trimurti, dan AG. Pringgodigdo. Diperkirakan yang hadir pada pagi itu 
seluruhnya ada 1.000 orang.
Acara yang direncanakan pada upacara bersejarah itu adalah; pertama
pembacaan teks proklamasi; kedua, pengibaran bendera Merah Putih; dan 
ketiga, sambutan walikota Suwiryo dan dr. Muwardi dari keamanan. Hari 
Jumat Legi, tepat pukul 10.00 WIB, Sukarno dan Moh. Hatta keluar ke 
serambi depan, diikuti oleh Ibu Fatmawati. Sukarno dan Moh. Hatta maju 
beberapa langkah. Sukarno mendekati mikrofon untuk membacakan teks 
proklamasi. 
Acara berikutnya adalah pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan 
oleh Latief Hendraningrat dan S. Suhud. Bersamaan dengan naiknya bendera 
Merah Putih, para hadirin secara spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya 
tanpa ada yang memimpin.
Setelah itu, Suwiryo memberikan sambutan dan kemudian disusul sambutan 
dr. Muwardi. Sekitar pukul 11.00 WIB, upacara telah selesai. Kemudian 
dr. Muwardi menunjuk beberapa anggota Barisan Pelopor untuk menjaga 
keselamatan Sukarno dan Moh. Hatta.
5. Kebahagiaan Rakyat atas Kemerdekaan Indonesia
Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia cepat bergema ke berbagai daerah. 
Rakyat di Jakarta maupun di kota-kota lain menyambut dengan antusias. 
Karena alat komunikasi yang terbatas, informasi ke daerah-daerah tidak 
secepat di Jakarta. Saat tersiarnya berita tentang Proklamasi Kemerdekaan, 
banyak rakyat Indonesia yang tinggal jauh dari Jakarta tidak mempercayainya. 
Pada tanggal 22 Agustus, Jepang akhirnya secara resmi mengumumkan penyerahannya kepada Sekutu. Baru pada bulan September 1945, Proklamasi 
diketahui di wilayah-wilayah yang terpencil. Sesaat setelah itu, timbullah 
segera masalah kesetiaan. Keempat penguasa kerajaan yang ada di Jawa 
Tengah menyatakan dukungan mereka kepada Republik, yaitu Yogyakarta, 
Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran. 
Euforia revolusi segera mulai melanda negeri ini, khususnya kaum muda yang 
merespon kegairahan dan tantangan kemerdekaan. Para komandan pasukan 
Jepang di daerah-daerah sering kali meninggalkan wilayah perkotaan dan 
menarik mundur pasukan ke daerah pinggiran guna menghindari konfrontasi. 
Banyak yang bijaksana memperbolehkan pemuda-pemuda Indonesia 
memperoleh senjata. Antara tanggal 3-11 September, para pemuda di Jakarta 
mengambil alih kekuasaan atas stasiun-stasiun kereta api, sistem listrik, dan 
stasiun pemancar radio tanpa mendapat perlawanan dari pihak Jepang. Pada 
akhir bulan September, instalasi-instalasi penting di Yogyakarta, Surakarta, 
Malang, dan Bandung juga sudah berada di tangan para pemuda Indonesia. 
Selain itu, juga terlihat adanya semangat revolusi di dalam kesusasteraan dan 
kesenian. Surat-surat kabar dan majalah Republik bermunculan di berbagai 
daerah, terutama di Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta. Aktivitas kelompok 
sastrawan yang bernama “Angkatan 45”, mengalami masa puncaknya pada 
zaman revolusi. Lukisan-lukisan modern juga mulai berkembang pesat di era 
revolusi.
Banyak pemuda bergabung dengan badan-badan perjuangan. Di Sumatera, 
mereka benar-benar memonopoli kekuasaan revolusioner. Karena jumlah 
pemimpin nasionalis yang sudah mapan di sana hanya segelintir, mereka 
ragu terhadap apa yang akan dilakukan. Para mantan prajurit Peta dan Heiho 
membentuk kelompok-kelompok yang paling disiplin. Laskar Masyumi dan 
Barisan Hizbullah, menerima banyak pejuang baru dan ikut bergabung dalam 
kelompok-kelompok bersenjata Islam lainnya yang umumnya disebut Barisan 
Sabilillah, yang kebanyakan dipimpin oleh para Kiai. 
Proklamasi kemerdekaan akan disebarluaskan melalui radio, tetapi Jepang 
menentang upaya penyiaran tersebut, dan malah memerintahkan agar para 
penyiar meralat berita proklamasi sebagai sesuatu kekeliruan. Tampaknya 
para penyiar tetap tidak mau memenuhi seruan pihak Jepang. Oleh karena itu, 
pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancarnya disegel dan para pegawainya 
dilarang masuk. Mereka kemudian membuat pemancar baru di Menteng 
31. Di samping melalui siaran radio, para wartawan juga menyebarluaskan 
berita proklamasi melalui media cetak, seperti surat kabar, selebaran, dan penerbitan-penerbitan yang lain.
Tanggal 3 September 1945, para pemuda mengambil alih kereta api termasuk 
bengkel di Manggarai. Tanggal 5 September 1945, Gedung Radio Jakarta 
dapat dikuasai. Tanggal 11 September 1945, seluruh Jawatan Radio berhasil 
dikuasai oleh Republik. Oleh karena itu, tanggal 11 September dijadikan hari 
lahir Radio Republik Indonesia (RRI).
Para pemuda memprakarsai diadakannya rapat raksasa di Lapangan Ikada 
(sekarang Monas). Rapat yang digagas oleh para pemuda dan mahasiswa 
yang tergabung dalam “Kesatuan van Aksi”, untuk melakukan rapat raksasa 
di lapangan Ikada, yang semula digagas tanggal 17 September 1945, 
mundur menjadi 19 September 1945. Presiden Sukarno sudah dihubungi dan 
bersedia akan menyampaikan pidato di dalam rapat raksasa pada tanggal 
19 September 1945. Sejak pagi, rakyat Jakarta sudah mulai berdatangan 
dan memenuhi Lapangan Ikada. Rapat itu untuk memperingati sebulan 
kemerdekaan Indonesia.
Bermula dari ketidakpuasan rakyat terhadap sikap Jepang yang belum 
juga mengakui Negara Republik Indonesia dan bahkan Jepang malah 
mempertahankan status quo-nya dengan mengatasnamakan Sekutu. Kondisi itu mendorong rakyat Indonesia yang baru saja merdeka, untuk segera 
membentuk pemerintah yang baru dan mengambil langkah-langkah nyata. 
Ketidakpuasan rakyat semakin bertambah ketika mengetahui pendaratan 
pasukan Sekutu dibawah pimpinan Mayor Geenhalgh, di Kemayoran pada 8 
September 1945. Rakyat dari berbagai penjuru dengan tertib berdatangan ke 
Lapangan Ikada dengan membawa poster dan bendera merah-putih. Mereka 
menuntut kebulatan tekat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. Dan juga 
bertekad untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa kemerdekaan 
Indonesia bukan atas bantuan Jepang, akan tetapi merupakan tekad seluruh 
rakyat Indonesia.
Melihat tekad rakyat yang menggelora dan tidak dapat dihalangi meskipun 
oleh tentara Jepang sekalipun, pemerintah terdorong untuk mengadakan 
sidang kabinet. Setelah itu, diputuskan Presiden Sukarno dan Moh. Hatta 
dan para menteri untuk datang ke Lapangan Ikada. Pada kesempatan itu 
Sukarno menyampaikan pidatonya yang disambut dengan gegap gempita 
oleh rakyat. Rapat itu berlangsung tertib dan damai.
Tanggal 19 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam 
VIII telah mengirim kawat ucapan selamat kepada Presiden Sukarno dan 
Wakil Presiden Moh. Hatta atas berdirinya Negara Republik Indonesia dan atas 
terpilihnya dua tokoh tersebut sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Ucapan selamat itu tersirat bahwa Sultan Hamengkubuwana IX dan Paku Alam VIII 
mengakui kemerdekaan RI dan siap membantu mereka. Kemudian, pagi itu 
sekitar pukul 10.00 tanggal 19 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengkubuwana 
IX mengundang kelompok-kelompok pemuda di bangsal kepatihan.
Kemudian untuk mempertegas sikapnya, Sri Sultan Hamengkubuwana IX 
dan Sri Paku Alam VII pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanat 
antara lain sebagai berikut.
1. Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat bersifat kerajaan dan merupakan 
daerah istimewa dari Negara Indonesia.
2. Sri Sultan sebagai kepala daerah dan memegang kekuasaan atas 
Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.
3. Hubungan antara Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan 
Pemerintah Pusat Negara RI bersifat langsung. Sultan selaku Kepala 
Daerah Istimewa bertanggung jawab kepada Presiden.
Amanat Sri Paku Alam VIII sama dengan amanat Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Hanya saja kata‘Sri Sultan 
Hamengkubuwana IX’ diganti 
dengan ‘Sri Paku Alam VIII’ dan 
‘Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat’ 
diganti dengan ‘Negeri Paku 
Alaman’.
Sementara di Surabaya, memasuki 
bulan September 1945, terjadi 
gerakan perebutan senjata di gudang 
Don Bosco. Rakyat Surabaya juga 
merebut Markas Pertahanan Jepang 
di Jawa Timur, serta pangkalan 
Angkatan Laut di Ujung sekaligus 
merebut pabrik-pabrik yang tersebar 
di sana.
Orang-orang Inggris dan Belanda 
yang sebagian telah datang, 
langsung berhubungan dengan 
Jepang. Mereka menginap di Hotel 
Yamato atau Hotel Oranye pada 
zaman Belanda. Pada tanggal 19 
September 1945, seorang bernama 
Ploegman dibantu kawan-kawannya mengibarkan bendera Merah Putih 
Biru di atas Hotel Yamato. Residen Sudirman segera memperingatkan agar 
Ploegman dan kawan-kawannya menurunkan bendera tersebut. Peringatan 
itu tidak mendapat tanggapan. Hal ini telah mendorong kemarahan para 
pemuda Surabaya. Para pemuda Surabaya kemudian menyerbu Hotel Yamato. 
Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera 
Merah Putih Biru, kemudian merobek bagian warna birunnya. Setelah itu, 
bendera tersebut dikibarkan kembali sebagai bendera Merah Putih. Dengan 
berkibamya bendera Merah Putih maka dengan penuh semangat dan tetap 
menjaga kewaspadaan, para pemuda itu satu per satu meninggalkan Hotel 
Yamato.
pendudukan jepan di Indonesia dan detik detik kemerdekaan indonesia

Komentar